Aku Mencintaimu Lebih Dari Kecepatanku #SafetyFirst

Ini keteledoranku. Tidak ini kecerobohan supir truk itu. Tapi kau juga keliru, bersikeras ikut meski sudah kularang keras. Tidak, ini salah pak polisi karena mereka tak satupun terlihat melintas di jalan itu saat kita melaju dengan kencang. Tapi ini juga salah pemerintah karena membiarkan kita membeli motor berkecepatan 125 cc dengan pembayaran super ringan alias kredit.

Aku ingin berteriak menyalahkan kita semua. Ya semua. Kau, aku, dan semua manusia yang ada saat itu. Juga orang-orang yang datang tanpa diundang untuk menonton kita yang terkapar. Menonton kau yang mengenaskan. Menonton kau yang tengah sekarat sementara aku... Aku kehilangan suara dalam arti seluas-luasnya.

Maafkan aku. Aku tak bisa berhenti menyalahkan setelah perjalanan yang membuat dirimu benar-benar tak kembali itu terjadi. Mungkin ini sudah hari ke 100 setelah kecelakaan maut yang menghilangkan nyawamu itu berlalu. Tapi di hari ke 100 ini hal ini pula yang tetap aku lakukan. Aku kehilangan dirimu, separuh nyawaku.

Aku tahu takdir adalah takdir. Ia adalah sebuah urutan yang tak diketahui dan mendadak. Dan akhirnya sebuah perenggutan pun terjadi. Seperti urutan peristiwa yang membuatmu tak kembali.

Aku juga tahu tak ada gunanya terus menyalahkan atau meratapi. Toh aku juga akan menyusulmu suatu saat nanti. Tapi ini sungguh berlebihan. Seperti sebuah pentas drama kolosal sementara kau dan aku menjadi pemeran utama. Kau mati dihadapanku dengan keadaan mengenaskan. Ditonton orang sejagat seperti menonton bola di layar lebar. Penuh emosi. Terharu dan tak tega.

Sementara aku melihatmu samar-samar karena memang tubuhku juga tak berdaya setelah membentur aspal. Dan setelah mobil ambulans datang, tubuhmu digotong pelan-pelan menuju lubang belakang. Kurang dari semenit kemudian, kau menghilang. Alaram sirine dibunyikan. Tapi kau mungkin sudah meregang. Semoga kau tenang.

Aku masih di sana saat itu, menahan kesakitan di bagian tangan, menunggu ada dermawan menghentikan mobilnya buat mengantarku ke klinik terdekat. Dan ketika akhirnya sebuah mobil sedan datang, seregu orang tanpa komando langsung memapahku menuju mobil.

Aku berangkat berobat dan kau telah mangkat.

Dan kisah cinta kita pun selesai.

Seperti baru kemarin sore aku memintamu dari ayahmu untuk jadi pendamping hidupku. Aku tak mengenalmu saat itu. Tapi aku tahu kau perempuan baik-baik. Dari keluarga baik-baik. Karena itu aku beranikan diri untuk melamarmu dengan modal seadanya.

Dengan kegugupan yang tak dibuat-buat, aku mencoba membuka pembicaraan yang sesungguhnya setelah sebelumnya berbasa-basi tentang segala hal. Termasuk soal pekerjaanku yang belum mapan seutuhnya. Tapi seperti dugaanku, keluargamu memang baik. Tak memandang harta sebagai sumber bahagia.

Di hari itu, ayahmu pun tak lekas menolak juga tak hendak menerima. Seperti biasanya tiga hari untuk menentukan semuanya dengan shalat istikhara tentunya. Dan aku memperbanyak doa agar kau lekas menghambur ke pelukanku.

Setelah tiga hari, jawaban gembira pun aku terima. Orang tuamu menerimaku dan kau terlihat semakin sumringah. Hari H pun ditentukan. Segalanya segera dipersiapkan.

Hingga hari itu pun datang.

“Sah, sah, sah,”kata para saksi waktu itu.

Kau halal untukku dan aku halal untukmu. Kita pun bersama selama seminggu. Bercerita dan bercita-cita bersama. Membagi kebahagiaan bersama. Dunia benar-benar milik kita berdua. Kita habiskan jam demi jam yang paling berharga itu untuk mengenali diri kita masing-masing.

Tapi kita berjodoh memang hanya seminggu karena di hari ke tujuh itu peristiwa itu pun terjadi. Aku kehilangan dirimu, separuh jiwaku.

Sebenarnya aku ingin berhenti menyalahkan, karena kutahu ini semua salahku. Bukan salahmu yang memang harus ikut ke rumah orang tuaku untuk tinggal beberapa hari di sana. Ini juga bukan salah sopir truk itu yang telah melindas tubuhmu hingga ia harus berurusan dengan polisi. Juga bukan salah orang-orang kampung itu, karena mereka memang hanya bisa membantu sebisanya. Bukan juga salah pak polisi karena memang pos polisi masih jauh dari jalan itu. Bukan pula salah pemerintah, karena meski telah mengizinkan kita untuk membeli motor itu, kita juga sudah diberi wejangan untuk tetap berkendara sesuai aturan.

Ini salahku yang tidak mau mendengar keluhanmu. Kau tak ingin aku berkendara terlalu cepat. Kau sering marah-marah saat aku memboncengmu dengan kecepatan tinggi. Aku selalu katakan padamu kalau aku sudah jago. Kecepatan sudah jadi kawanku. Jalanan sudah jadi santapanku. Tapi akhirnya aku sadar aku terlalu sombong dan tak pernah menyadari ungkapan rasa cintamu dalam arti seluas-luasnya.

Seperti sindiran halusmu pagi itu sebelum kita berangkat.

“Orang naik motor itu sering tidak masuk akal ya, mas?” kau membuka pembicaraan.

“Maksudnya?” tanayaku keheranan.

“Iya. Bagaimana bisa berkendara dengan kecepatan tinggi mempertaruhkan nyawanya demi sesuatu hal yang tak lebih berharga ketimbang nyawanya sendiri,” jawabmu santai.

“Misalkan?” tanyaku kembali masih ingin merinci.

“Misalkan em... Misalkan pelajar di pagi hari berani berkendara dengan kecepatan tinggi hanya demi tidak terlambat sekolah. Padahal kan ada opsi lain. Misalkan kenapa mereka tidak datang lebih awal sehingga mereka tidak terlambat dan mereka juga tidak perlu berkendara dengan kecepatan tinggi kan?”

“Mungkin mereka itu di pagi hari sibuk, harus mengurus ini dan itu. Makanya mereka itu repot. Gak bisa berangkat pagi,” sangggahku mencoba membuka memberi sudut pandang lain.

“Setiap kerepotan itu bisa dicarikan solusi. Itulah gunanya mereka sekolah supaya mereka kreatif. Lha kalau berkendara dengan kecepatan tinggi lalu nabrak orang gimana? Itu lebih merepotkan kan? Ini sama juga kasusnya dengan para pekerja. Mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka dengan berkendara dengan keceptan tinggi hanya supaya tidak telat. Ini sungguh tidak masuk akal.”

“Sayang... Berkendara pelan juga bisa nabrak kan... kalau sudah takdirnya?” jawabku.

“Iya sayangku... Tidur di malam hari juga bisa saja mati. Tapi selama masih ada pilihan yang lebih baik kenapa rela dengan yang buruk. Ya kan?”

Aku hanya tersenyum saat itu. Tak hendak lagi membalas perkataanmu.

“Sayangku, ingat ya keselamatan yang nomor satu. Satu lagi do'a itu penting lho mas.”

“Ok beres pokoknya,” jawabku santai.

Kau benar, akulah yang tidak logis. Mencoba akrab dengan kecepatan. Tapi aku tidak pernah menyadari kau kusayangi lebih dari hanya sekadar menyalip sebuah truk. Sebuah truk yang kurasa ia hanya menghalangi jalanku. Sementara kecepatanku sudah seperti kilat menyambar. Tanpa pikir panjang setelah melihat tak ada kendaran di depan, aku pun seperti kerasukan, menggila di jalanan. Menyalip truk besar dengan perasaan tanpa gamang. Tapi kejadian di detik berikutnya, sungguh membuatku ketakutan. Setir sebelah kiriku menyenggol bodi truk. Aku tak bisa lagi mengendalikan motor. Motor oleng. Dan jadilah aku kembali dengan badan remuk, hati hancur, motor rusak berat. Sementara kau yang kusayangi tak pernah kembali.

Kau benar ini hanya masalah sabar dan tak sabar. Sesederhana itu memang bedanya. Tapi di jalanan itu bisa jadi beda antara hidup dan mati.

Kau benar semuanya telah ditentukan takdirnya tetapi kita juga diberikan pilihan untuk menjalani. Untuk bertahan dengan yang buruk atau beralih kepada yang baik.

Sekali lagi kau benar sayangku, tidak berkendara memang juga bisa mati. Tapi jika aku diberi kesempatan untuk berkendara lagi bersamamu aku akan lebih memilih berkendara menyusuri hari-hari kita yang belum lengkap.

Aku menyayangimu, separuh hatiku, lebih dari kecepatanku.                                                                                                                                                                                                                  Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Comments
0 Comments
Thanks for your comment