Kepepet Menulis, Jurus Unik Agar Anda Semakin Giat Menulis (Motivasi Menulis)



Dalam proses menulis, berapa banyak kita akan menghadapi masa-masa malas atau tidak mud? 

Mungkin lebih dari banyak, sehingga membuat kita semakin sebal dan akhirnya tidak pernah lagi menulis. 

Atau berapa kali kita merasa kita tak bisa menulis lagi, meski tangan masih lengkap serta komputer atau laptop tersedia? Mungkin berkali-kali.

Jika sudah demikian apa yang sobat nulis lakukan?

Berhenti nulis?

Jalan-jalan cari inspirasi sambil mendinginkan pikiran?

Atau membaca buku?

Atau yang lain?

Kalau saya selalu melakukan hal ini.

Jika dalam kondisi seperti itu, saya selalu memikirkan bahwa saya KEPEPET menulis. 

Ya kepepet alias terdesak agar saya terdesak untuk menulis. Di saat seperti itu saya selalu memikirkan bahwa inilah jalan satu-satunya untuk meraih impian saya di masa depan.

Jika saya tidak mud menulis maka saya selalu memikirkan hal-hal yang saya tidak sukai, misalnya saya akan bekerja sebagai kuli bangunan jika saya tidak menulis atau saya akan bekerja di kantor sebagai karyawan yang duduk mulai pagi hingga sore, ditekan oleh bos, dapat uang tiap bulan, ngontrak rumah terus-terusan, menjalani rutinitas hidup seperti itu terus-menerus, dan yang lebih mengerikan adalah saya tak bisa jadi diri saya sendiri.

Karena itu saya harus KEPEPET!

Bagaimana kepepet bisa membuat kita semakin produktif?

Menurut saya, kepepet adalah salah satu jurus ampuh untuk membuat kita mau dan mampu melakukan sesuatu, termasuk menulis. Dengan KEPEPET kita akan semakin produktif, karena perasaan kepepet itu akan menimbulkan dua hal.

1. Menyadari nikmat waktu

Perasaan kepepet itulah yang membuat kita berangsur-angsur menyadari bahwa banyak hal yang sebenarnya kita sia-siakan selama ini, seperti kesempatan waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita. 

Hal ini karena ketika kita merasa kepepet, kita terpacu oleh waktu yang sempit, waktu yang mungkin hanya beberapa menit hingga dead line tiba. Oleh karena itu, kita akan sangat menghargai setiap detik yang tersisa, yang tak mungkin berbalik mundur dan bertambah.

Karena itulah kita perlu merenungkan hal ini: jika kita semua diberikan kesempatan waktu dalam sehari 24 jam, berapa banyak waktu yang kita buang percuma? Berapa jam yang kita lalui tanpa melakukan hal positif, tanpa membuat kita lebih produktif? Mungkin berjam-jam.

Padahal jika kita manfaat setiap detik untuk melakukan hal-hal positif, mungkin produk luar biasa yang akan kita buat dan bagikan kepada umat manusia termasuk dalam soal tulis-menulis. Dalam waktu 24 jam berapa banyak lembar demi lembar tulisan yang akan kita hasilkan jika kita mau menyadari betapa penting kesempatan waktu yang diberikan Allah kepada kita. Kita mungkin akan merasa tak percaya jika telah melakukannya.

Para ulama telah menjadi bukti, keberkahan dalam menggunakan kesempatan waktu dapat menjadi teladan bagi kita saat ini. Mereka benar-benar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Mereka selalu memanfaatkan waktu 24 jam sehari untuk beribadah, menuntut ilmu, dan mengajar atau menulis untuk kemanfaatan umat. Dan karena itu hingga kini kita masih dapat menikmati lautan ilmu yang mereka torehkan dalam lembar-lembar tulisan.


Imam Al Ghazali berkata,”Kalau kamu bukan anak raja dan kaum bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”


Mungkin jika mulai meyadarinya, kita akan mampu membuat sebuah buku dalam satu bulan. Mungkin jika kita mulai menyadarinya kita akan bisa menulis 100 artikel di blog perbulan. Percaya atau tidak percaya itu bisa saja terjadi. Tinggal kita mau kepepet atau tidak.

2. Keluar dari zona aman dan nyaman

Kepepet juga akan membuat kita merasa tidak lagi memiliki tempat atau zona nyaman yang membuat kita selama ini menggantungkan diri jika seandainya kita tidak berhasil mencapai atau mendapat sesuatu. Tempat atau rasa nyaman itulah yang menjelma sebagai alasan. 

Jika alasan-alasan itu tetap kita pelihara maka kita akan kehilangan semangat membara untuk terus produktif, termasuk dalam hal menulis. Kita tidak akan terpacu untuk menuangkan ide-ide brilian kita ke bentuk tulisan. Kibor komupter atau laptop kita tak akan berdetak beriringan dengan tarian jari-jemari kita.

Jika zona aman tetap kita jadikan tameng untuk tidak menulis, maka kapan kita akan mulai menulis? Mungkin besok atau besoknya lagi atau besok setelah besoknya lagi, dan seterusnya.

Dan yang lebih berbahaya adalah ketika kita sudah kebanyakan alasan maka bukan tidak mungkin sobat nulis tidak akan nulis lagi selama-lamanya.

Alasan-alasan itu bisa berwujud: “Ah lagi gak mood!” “Lagi gak berselera nulis!” “Lagi ngantuk!” “Lagi males!” Atau “Lagi sibuk banget nih!” “Lagi gak ada inspirasi!” Dan lagi-lagi yang lain.

Karena itu coba hilangkan rasa nyaman dalam diri, dan selalu pikirkan bahwa menulis adalah jalan satu-satunya untuk meraih impian kita!


Dan ingat! Seperti kata Stephen King,”Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi, kita sendirilah yang menciptakannya.”


Maka mulailah dengan kepepet jika soba nulis mulai kehilangan semangat menulis.

Bagaimana menurut sobat?
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Comments
0 Comments
Thanks for your comment